Minggu, 4 Januari 2009 02:21 WIB
Samuel Mulia
Sudah berjuta kali saya melihat tukang pel membersihkan lantai. Mau di rumahsakit, di kantor klien saya, di hotel berbintang, bahkan di mal. Kalau dirumah, saya sendiri yang mengepel.Berjuta kali melihat pemandangan yang sama membuat saya menjadi biasa.Tetapi, entah mengapa, dua minggu menjelang Tahun Baru, saya pergi ke sebuahmal. Kok kebetulan ingin buang air kecil, jadi saya ke kamar kecil. Dalamperjalanan ke tempat pembuangan air seni itu, saya menyaksikan lagipemandangan berjuta kali itu, hanya saja kali ini saya menjadi lebihsensitif.Sensitif dalam hal apa? Berjuta kali mereka membersihkan lantai, berjutakali saya menginjak apa yang sudah dibersihkan itu. Dan setiap kali sayamenginjak yang baru dibersihkan itu, saya sertakan ucapan, "Maaf ya, Mbak",atau "Maaf ya, Mas".Begitu berjuta kali. Dibersihkan, diinjak, minta maaf. Dibersihkan, diinjak,minta maaf. Dan mereka hanya menjawab dalam kesederhanaan, " Silakan, Mas."Tanpa tersakiti, tanpa rasa kesal. Well... saya tak tahu sama sekali apa yangsesungguhnya terjadi di dalam hati mereka.Kalau berpikir sederhana, harusnya mereka kesal dan mengumpat meski dalamhati. Di luar bisa saja ramah, di dalam bisa mengumpat. Itu saya. Sangatsaya. Kalau soal menjadi pura-pura, saya memang jagonya.
*"The blue collar"*
Itulah yang untuk pertama kali membuat saya melek. Ada manusia yangpekerjaannya hanya membersihkan yang kotor dan diam ketika yang dibersihkandikotori lagi. Mungkin mereka lama-lama bebal. Karena menjalankannya setiaphari, seperti setiap hari saya mengerjakan pekerjaan rumah. Mengotori.Saat pertama kali menjadi karyawan, mereka juga sudah diberi tahumembersihkan yang kotor adalah pekerjaan utama dan tanggung jawab mereka.Dan mereka mau menyanggupinya. Itu mengapa kita menyebut mereka the bluecollar workers. Kok yaa... ndilalah seragam yang mereka kenakan kebanyakanberwarna biru. Dan saya memberi label mereka demikian, padahal yang muliaitu yang blue.Itu baru soal membersihkan lantai, belum WC, wastafel. Bahkan, mereka yangberdiri dan duduk di belakang truk pengangkut sampah dan kotoran yang baunyajauh dari wangi. Mereka memungut kotoran yang saya buang seenak udel. Yangtak saya pikir panjang telah membuat got bumpet dan membanjiri sebuahlokasi. Berkali-kali, bertahun lamanya. Tangan saya terlalu ringan melemparkotoran sembarangan. Di mana saja, kapan saja, sesuka saya.Maka, kemudian saya bertanya kepada diri sendiri, bisakah saya sepertimereka? Kata nurani saya, "Ogah, ah...." Suara itu berlanjut lagi, "Setiaporang sudah mempunyai kewajiban masing-masing. Ada yang diciptakan untukmengotori dan ada yang diciptakan untuk membersihkan. " Saya itu benci samanurani saya. Senangnya menyindir saja.Kemudian saya ingat lagi pada soal tangan yang dianggap bersih secara umum.Yang kiri atau yang kanan? Saya akan mengatakan yang kanan, tetapi kalaudipikir dengan tenang, kok rasanya tangan kiri itu sungguh mulia. Tanganyang disediakan untuk membersihkan yang kotor. Sementara tangan kanan, yangseyogianya untuk melakukan sesuatu yang bersih, malah buat menampar orang,menunjuk orang dengan jari tengah berdiri sambil mengumpat dalam bahasaInggris dengan F word-nya, membunuh, menerima uang di bawah meja, di bawahtempat tidur, di bawah pohon.
*Kursi listrik*
Tahun baru belum mencapai sepuluh hari. Saya baru mau membayangkan apakahsaya ini tukang pel, apakah saya ini tangan kiri? Atau memang saya termasukyang diciptakan Tuhan sebagai pembuat kekotoran? Sebagai tangan kanan yangmembunuh, yang selalu menganggap diri paling benar, yang menunjuk denganmudah kesalahan orang tanpa pernah mau menyadari sejuta kesalahan saya sudahseperti lapis legit? Apakah pekerjaan dan usaha yang saya jalani malahmembuat tubuh dan pemikiran orang atau nasabah atau klien saya menjadikotor?Tangan kanan saya itu mudah sekali menggandeng milik orang lain sampaimelupakan yang ada di rumah. Tidak hanya lupa pasangan hidup, tetapi jugaanak-anak saya sebagai pasangan hidup juga. Saya sampai lupa anak-anak sayabisa jadi malu melihat tingkah polah orangtuanya. Saya lupa anak saya itumau membuat saya jadi contoh kebaikan, malah melirik contoh yang baik ketetangga sebelah.Nanti kalau datang masanya anak saya mulai memprotes, mulai berbedapendapat, bahkan bisa jadi meninggalkan saya, maka mulut saya dengan mudahmengatakan anak saya tak tahu diri. Saya, kalau yang tak tahu diri ituadalah saya.Mengapa saya lupa? Karena saya biasa menginjak yang bersih, dan karenakeseringan kemudian menjadi bebal. Tidak sensitif lagi karena saya seringmendengar jawaban, "Gak papa, Mas." Karena terus-terusan gak papa, lupalahsaya dan menyimpulkan itu sudah demikian adanya. Bahwa sangatlah wajarmenginjak yang bersih tanpa mau menjadi bersih, tanpa mau menempatkan dirisebagai tangan kiri atau tukang pel.Saya tak mau berjanji apa-apa Tahun Baru ini. Sudah terlalu banyak resolusiyang tak dijalani dan tahun ini saya tak mau menumpuk bara lagi di ataskepala saya. Susah bayar utangnya. Nanti kalau ditagih, biasanya sayangeles. Maka, jalan-jalan saya di mal beberapa waktu lalu itu hanya sebagaijam weker yang membangunkan, tepatnya yang mengagetkan saja. Belum bisasampai meresap seperti bumbu ke dalam daging.Bayangkan weker berbunyi, biasanya cuma kaget dan menggerutu kok sudahwaktunya bangun, atau kok sudah waktunya sembahyang lagi. Tetapi, kaget ituperlu, kesetrum itu perlu, untuk memelekkan yang sudah terlalu lama buta."Lo kenapa enggak duduk di kursi listrik saja. Sudah pantas, kok." Nuranisaya tampaknya tahun ini mulai menaikkan kualitas suaranya. Lebih surroundgituh!
Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/01/04/ 02213425/ tukang.pel